PENGUMUMAN

Budidaya Rusa Bersekala Pulau Kecil Untuk Usaha Komersial

Oleh: Dr. Mufti Sudibyo, M.Si

Penulis adalah dosen jurusan biologi Unimed

Budidaya rusa yang sering disebut sebagai Penangkaran adalah suatu kegiatan untuk mengembangbiakan satwaliar yang bertujuan untuk memperbanyak populasi dengan tetap mempertahankan kemurnian genetik sehingga kelestarian dan keberadaan jenis satwa dapat dipertahankan di habitat alamnya (Thohari et al. 1991). Penangkaran satwa liar merupakan salah satu program pelestarian dan pemanfaatan untuk tujuan konservasi dan ekonomi.

Pemanfaatan rusa sebagai jenis yang dilindungi telah dilakukan berdasarkan PP Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Bentuk pemanfaatannya dapat berupa pengkajian, penelitian dan pengembangan; penangkaran; perburuan; perdagangan; peragaan; pertukaran; dan pemeliharaan untuk kesenangan. Pengurusan ijin pemanfaatan diatur dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar. Pemanfaatan dapat dilakukan oleh perorangan, badan hukum, koperasi, atau lembaga konservasi.

Bibit rusa yang akan dipelihara dalam penangkaran didatangkan dalam jumlah yang disesuaikan dengan proyeksi jumlah rusa yang diperlukan untuk perburuan. Beberapa aspek yang diperlukan dalam pemeliharaan meliputi: seleksi bibit, adaptasi, pakan, administrasi pencatatan, dan pemanenan.

Budidaya rusa bersekala pulau kecil dan terpencil/terluar dari perbatasan Indonesia memiliki tiga fungsi utama : 1. Sebagai aspek legalitas kepemilikan pulau-pulau terpencil dan terluar dan tidak berpenduduk yang memiliki potensi diklaim milik negara lain 2. Pemanfaatan lahan tidur yang selama ini kurang mendapatkan perhatian oleh Pemerintah Pusat maupun lokal. 3. Menjaga kelestarian satwa asli Indonesia dan 4. Pembukaan usaha baru pengembangan produk daging dan ranggah muda (velvet antler) sebagai bahan nutraceutical/ bahan obat alami.

Rusa  merupakan satwa liar yang sampai saat ini masih bersatatus dilindungi. Di dunia saat ini terdapat 34 jenis rusa, empat diantaranya merupakan jenis asli dari  Indonesia yakni Rusa timorensis (rusa timor) Rusa unicolor(rusa sambar) Axis kuhlii (Rusa Bawean), dan Muntiacus muntjak (Kijang). Dua jenis rusa diantaranya rusa timor dan rusa sambar sudah banyak ditangkarkan oleh masyarakat namun belum menghasilkan produk bersekala Nasional.  Rusa memiliki potensi yang sangat tinggi yang hingga saat ini belum banyak diupayakan secara maksimal oleh pengusaha Nasional, meskipun status rusa adalah dilindungi, namun melalui upaya penangkaran dapat memanen hasil F2 (keturunannya).

Rusa bekembang biak sangat cepat, karena hanya butuh waktu 9 bulan untuk masa kehamilan dan 4 bulan masa penyapihan. Musim kawin rusa (Timor dan Sambar) di Indonesia umumnya terjadi pada bulan Desember hingga April. Dalam upaya penangkaran rasio rusa jantan dengan betina umumnya adalah 1 : 4, dengan kondisi ini setiap tahun produksi rusa dapat menghasilkan 4 anak.

Download Artikel Lengkap