PENGUMUMAN
PSGPA Unimed

Dukung Kesetaraan Gender dan Perlindungan Anak, PSGPA Unimed Sosialisasi Kepada Mahasiswa PPL

MEDAN (Unimed) – Fenomena ketimpangan gender dalam bidang pendidikan dan masyarakat Indonesia masih terasa. Seperti tampak pada aspek pemerataan pendidikan, pengelolaan pendidikan dan sumberdaya manusianya, kurikulum, bahan ajar, dan proses pembelajaran. Pemenuhan hak-hak anak juga mengalami berbagai kendala, seperti kasus pelecehan terhadap anak di beberapa lembaga pendidikan.

Menyikapi hal tersebut, Unimed melalui Pusat Studi Gender dan Perlindungan Anak (PSGPA Unimed) melakukan sosialisasi terhadap mahasiswa yang akan melangsungkan Program Pengalaman Lapangan (PPL) tahun 2017.

“Acara sosialisasi ini diharapkan dapat mencegah kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah dan lingkungan rumah. Menanamkan kesadaran guru atau mahasiswa PPL dan sekolah dalam penerapan kesetaraan gender”, ujar Dr. Esi Emilia, M.Si., Kepala PSGPA Unimed di Gedung Digital Library, Senin (21/8/2017).

Capaian lain yang diharapkan dari kegiatan ini menurut Esi yakni, mahasiswa PPL dapat mengangkat persoalan atau isu-isu gender dan perlindungan anak sebagai bahan penulisan skripsi.

PSGPA Unimed 2

Sementara itu, Wakil Rektor II Dr. Restu, M.S yang membuka acara ini mengungkapkan perlunya integrasi nilai-nilai keseteraan gender dan perlindungan anak untuk dimasukkan kedalam materi pelajaran. Dirinya juga mengapresiasi acara sosialisasi tersebut dan berharap kualitas PPL semakin meningkat.

“Kalau mau dijadikan mata pelajaran sendiri nanti terlalu banyak jam belajarnya. Tentang korupsi juga perlu dimasukkan. Narkoba. Pancasila dan banyak lagi. Makanya menurut Saya yang paling pas ialah memasukkannya kedalam materi pembelajaran”, terang Restu.

“Kita harap kualitas PPL semakin hari semakin meningkat. Semakin banyak pembekalan seperti ini, semakin baik”, pungkasnya.

Acara sosialisasi ini menghadirkan narasumber Ir. Meuthia Fadila Fachruddin, M.Eng.Sc, Dr. Rahmat Mulyana, M.Si dan Dr. Esi Emilia, M.Si

Menurut Meuthia Fachruddin, kesenjangan partisipasi antara laki-laki dan perempuan perlu strategi khusus yang disebut dengan Pengarusutamaan Gender, yaitu pemahaman gender dimasukkan di segala bidang. Sementara untuk perlindungan anak, perlu didorong adanya ruang ramah anak di sekolah, kota, desa dan di berbagai tempat.

Sementara Rachmat Mulyana mengungkapkan, prinsip pembelajaran berwawasan gender menuntut kesiapan pendidik dalam kemampuan berwacana gender. Acara sosialisasi ini juga merupakan langkah menyalurkan pengetahuan seputar gender dan hak anak kepada mahasiswa calon guru. Disamping itu, pembelajaran berwawasan gender harus adil dan setara dalam memperlakukan peserta didik, tidak menggurui, terbuka, dialogis, dan menggunakan pendekatan holistik. (Humas Unimed).