PENGUMUMAN
Budaya Karo

Ekspresi Budaya Tradisional Perlu Dilindungi Dengan UU Tersendiri

Medan (Unimed) – Ekspresi budaya tradisional belum terakomodir dalam Undang-Undang Hak Cipta (UUHC). Oleh sebab itu perlu diatur dalam Undang-Undang tersediri. Demikian disampaikan Dr. Reh Bungana Br. Perangin-angin, M.Hum dalam seminar “Perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional Batak Karo Ditinjau Dari Undang-Undang Hak Cipta” yang digelar di VIP Room Digital Library Unimed, Kamis (1/12).

Reh Bungana menilai banyaknya klaim dari bangsa lain serta punahnya beberapa ekspresi budaya tradisional dianggap sebagai akibat kurangnya perlindungan yang diterapkan pemerintah. Kurangnya perlindungan tersebut karena Undang-Undang yang ada tidak memadai dalam memberikan perlindungan terhadap ekspresi budaya tradisional.

Ketua Jurusan PPKN ini mengungkap alasan UUHC tidak mampu melindungi eskpresi kebudayaan antara lain karena ekspresi budaya merupakan milik komunal (bersama), sedangkan UUHC melindungi karya individual. Sementara itu, perlindungan budaya bersifat abadi sementara hak cipta mempunyai batas waktu. Dalam UUHC penciptanya teridentifikasi sedangkan ekspresi tidak teridentifikasi. Ekspresi budaya tidak tetap dan kadang kurang orisinil sedangkan hak cipta itu tetap dan orisinil.

Karo 2

Sementara itu, Dosen PPKN Dra. Yusna Melianti, M.H yang juga menjadi salah satu narasumber mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya ekspresi kebudayaan yang mulai menghilang. Bahkan menurutnya, kain khas Karo “Uis Karo” tidak lagi ditenun Orang Karo, tapi masyarakat Batak Toba yang di Kabupaten Samosir. “Tersisa hanya satu orang penenun yang suku asli Karo”, ungkapnya.

Dr. Pulumun P. Ginting, M.Sn berharap masyarakat Karo melestarikan budayanya. “Untuk memahami masyarakat Karo harus memahami filosofi Karo, Sangkep Nggeluh”, ucapnya.

Wakil Dekan III FIS Drs. Waston Malau, MSP mengatakan, bukan hanya budaya Karo, banyak kebudayaan Indonesia yang mulai memudar. “Ini terjadi karena persinggungan dengan budaya modren. Bahkan sebagian orang ‘alergi’ terhadap budaya tradisional. Padahal ini identitas kita”, imbuhnya.

Waston berharap acara seminar tersebut “mengelitik” pemikiran untuk peduli terhadap budaya tradisional Indonesia. (Humas Unimed)