PENGUMUMAN
BK

FIP Gelar Seminar Nasional “Menyiapkan Guru BK Di Era Digital”

Medan, Jurusan Pendidikan Bimbingan dan Konseling FIP Unimed menggelar Seminar Nasional yang bertajuk “Menyiapkan Guru Bimbingan dan Konseling dalam Membimbing Siswa Menghadapi Era Digital”. Seminar yang dilakukan pada 4 November 2017 di Auditorium Unimed ini dibuka langsung oleh Rektor Unimed Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd, turut hadir Wakil Rektor II Dr. Restu, M.S, Dekan FIP Dr. Nasrun, M.S, Dra. Wastiana Harahap (Kadis Pendidikan Deli Serdang), para Wakil Dekan, Ketua Jurusan dan Ketua Prodi dilingkugnan FIP. Narasumber yang menyampaikan materi seminarnya adalah Prof. Dr. Prayitno, M.Sc. (Dosen UNP) dan Dr. Muhammad Farozin, M.Pd, (Dosen UNY).

Dra. Zuraidah Lubis, M.Pd, selaku Ketua Jurusan PBK dalam sambutanya menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga atas kehadiran Bapak Rektor Unimed, Narasumber, Wakil Rektor II, Dekan FIP, Kadis Pendidikan Deli Serdang, Bapak/Ibu Dosen dan ratusan peserta yang telah menghadiri acara seminar nasional ini. Peserta yang hadir merupakan 800 guru BK dari daerah Pemkab dan Pemko di seluruh Sumatera Utara. Juga turut hadir ratusan pemerhati PBK yang bersedia mengikuti seminar ini. Seminar ini tidak akan berarti, tanpa kehadiran kita bersama. Niatan seminar nasional ini dilaksanakan sungguh ingin memberikan model baru bagi guru BK dalam melakukan pembimbingan kepada siswa dimasing-masing sekolah dengan memanfaatkan media teknologi terbaru yakni berbasis IT, karena kita hidup sekarang di era digital. Tidaklah baik jika kita guru BK dan praktisi BK tidak mau memanfaatkan IT untuk media kekinian dalam aktivitas pembimbingan kepada siswa di sekolah. Kita telah mengundang 3 narasumber dari UNY, UNP dan Bapak Rektor Unimed yang telah memiliki banyak pengalaman dalam hal materi yang kita bahasa kali ini. Semoga seminar ini dapat memberikan sumbangsih bagi kita para pendidik dan praktisi BK dalam memanfaatkan IT dalam proses pembimbingan BK.

Rektor Unimed, Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd. diawal sambutannya memperkenalkan dua nawasumber yang akan memaparkan materi seminar nasional bertajuk “menyiapkan guru BK di era Digital”. Dua narasumber yang ahli dibidang ini yakni Prof. Dr. Prayitno, M.Sc, Ed selaku Dosen UNP dan Dr. Muhammad Farozin, M.Pd: Dosen UNY. Tidak diragukan lagi kepakaran mereka karena dari CV nya kita dapat melihat karya-karya ilmiah dibidang BK telah mereka hasilkan.

Prof. Syawal Gultom, sangat antusias membuka seminar nasional ini karena beliau menganggap penting dan merupakan hal yang sangat amat kita butuhkan bagi guru BK untuk saat ini. Menitikberatkan peran guru BK dalam hal menaklukkan IT yang saat ini telah menjadi kebutuhan setiap manusia. Mengingat pada saat ini sangat banyak pengaruh era digital yang telah mengubah mindset kita pada umumnya. Radhar Panca Dahana, mengatakan smartphone yang ada di tangan kita telah menjadi Sang guru ketiga, dan telah mengalahkan Sang guru pertama dan kedua yakni orang tua di rumah dan guru di sekolah maupun pemuka agama dimasyarakat. Mengingat tidak sedikit konten yang terdapat didalam smartphone yang berbau negatif yang dapat sangat mudah diakses oleh anak-anak. Sehingga kita didominasi oleh konten-konten yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan proses pembelajaran. Bagaimana untuk memprediksi anak-anak Indonesia kedepannya dengan situasi sekarang apabila mereka tidak mempunyai pertahanan untuk menyeleksi mana yang patut dilihat mana yang tidak, disinilah peran kehadiran guru BK dibutuhkan. Melalui pendektan yang dilakukan oleh guru BK yakni dengan cara bersahabat dengan para siswa, bukan melalui doktrin. Karena melalui pendekatan yang demikianlah guru BK bisa memberi masukan yang sangat konstruktif bagi anak didiknya. Sudah saatnya guru BK menggunakan media IT di era digital dalam memanfaatkannya kegiatan-kegiatan pembimbingan BK di sekolah. Saya yakin akan berkontribusi positif dalam aktivitas pembimbingan dengan sisiwa, mensinergikan dengan orang tua dan masyarakat.

Prof. Dr. Prayitno, M.Sc. Ed, dalam paparannya mengatakan ada empat hal yang perlu menjadi fokus bagi kita saat ini dalam seluruh tingkat pendidikan mulai dari SD sampai perguruan tinggi di seluruh dunia, yakni : 1. Bagaimana memperoleh digital age literacy. 2. Inventive thinking, bagaimana berpikir menemukan/berinovasi. 3. Effective communication. Bagaiman kemampuan komunikasi dilakukan secara efektik baik lisan maupun tulisan, dan 4. High productivity yang merupakan penggabungan antara kreatifitas dan invensi.

Lanjutnya, mereka yang dapat bertahan dalam digital age adalah mereka yang menguasai dan mampu bertahan akan empat hal tersebut. Dan kata kunci dalam empat hal diatas adalah kemandirian belajar, baik dalam berpikir maupun bertindak. Disinilah peran BK benar-benar dibutuhkan, bagaimana BK melahirkan generasi bangsa Indonesia yang mampu mandiri dalam bertindak, berpikir, dan bertanggung jawab.

Sementara Dr. Muhammad Farozin, M.Pd, mengungkapkan bahwa saat ini, telah banyak penemuan-pememuan yang dihasilkan dan ditenerapkan dalam kehidupan kita sehari-hari yang telah memanfaatkan IT. Misalnya : Grab, Traveloka, dan berbagai Online Shop, bahkan electronic money yang kehadirannya nanti akan menggantikan uang fisik bertransaksi. Teknologi dan sains merupakan hal yang pasti mengalami perubahan. Oleh karena itu kemandirian belajarlah hal yang sangat diperlukan karena dengan begitu perubahan apapun yang terjadi dapat diikuti dan beradaptasi lebih mudah. Salah seorang ahli mengatakan, hal yang menentukan generasi masa depan adalah dengan merubah cara berpikirnya. Yakni orang-orang yang punya kemampuan metakognitif dan high order thinking. Dua kemampuan itulah yang bisa bertahan di 2030. Dengan demikian, BK harus mulai merubah the way of thinking-nya. Selain itu juga harus dapat merubah the way of working. Bagaimana anak-anak didik nantinya akan bekerja. Dengan memegang dua hal penting, yaitu information literacy dan IT & ICT literacy. Demikianlah mengapa seminar ini begitu penting untuk mempersiapkan diri menghadapi hal yang ada di depan mata kita. Karena bila kita tidak mampu menaklukan anak-anak didik kita dalam menerima digital age, maka kita akan dihadapkan pada masalah besar. (Humas Unimed).