PENGUMUMAN
David Reeve Angkot Minangkabau

Kuliah Umum Prof David Reeve Diharapkan Memunculkan Ide Baru

MEDAN (Unimed) – Bagi sebagian besar orang, Angkot (Angkutan Kota) adalah sesuatu yang biasa dan tidak ada yang spesial. Tidak demikian halnya dengan Prof. David Grant Reeve, akademisi University of New South Wales, Australia. Baginya Angkot Minangkabau menjadi sesuai yang eksostis dan menarik untuk diteliti secara ilmiah.

Menurut Reeve, angkot bisa menjadi salah satu simbol kreativitas, penentu kesuksesan, magnet ekonomi, hingga simbolisasi status sosial.

Hal ini disampaikan Reeve pada kuliah umum bertajuk “Angkot dan Bus Minangkabau, Budaya Pop dan Nilai-nilai Budaya Pop” yang digelar di Digital Library Unimed, Selasa (12/9).

Apa yang disampaikan Reeve ini sebenarnya merupakan hasil penelitiannya di Sumatera Barat yang kemudian dibukukan dengan judul yang sama dengan tema acara tersebut.

Tema ini  menarik perhatian Reeve karena alat transportasi terebut dinilai memiliki makna simbolik dan sarat dengan budaya populer. Ia terkesan dengan angkot dan bus di Minangkabau yang kerap dipenuhi kreasi simbol, warna dan kata-kata. Tak ketinggalan, dashboard angkot juga kerap dihiasi boneka-boneka yang dilengkapi lampu hias. Membuat kendaraan tersebut menjadi amat meriah.

Reeve kemudian mengamati angkot-angkot dan bus-bus tersebut, kemudian mulai mencatat satu persatu tulisan yang ada di tubuh kendaraan tersebut serta mengambil gambar dari kendaraan-kendaraan yang menurutnya menarik untuk diteliti.

Ia mencatat setidaknya ada 780 macam “bahasa” angkot dan bus Minangkabau. 58 persennya menggunakan Bahasa Inggris, 31 persennya menggunakan Bahasa Indonesia, dan hanya 12 persen yang menggunakan Bahasa Minang.

Hal ini menurut Reeve, kemungkinan disebabkan oleh budaya rantau orang Minang, dimana ketika seseorang merantau akan mengutip budaya dimana dia merantau, yang kemudian akan membawanya ketika dia pulang ke “ranah” atau kampung halaman.

Memunculkan Ide

Acara kuliah umum tersebut diharapkan meenambah pengetahuan mahasiswa serta  memunculkan ide dan kreatifitas dari hal yang sederhana.

“Kuliah umum ini semoga dapat memunculkan ide, kretifitas, dan inovasi dari hal-hal sederhana yang ada disekitar kita”, ujar Dekan FBS Dr. Isda Pramuniati, M.Hum ketika membuka acara ini.

Kedepan, kata Isda, hasil karya seni dari mahasiswa FBS bukan hanya karya produk seni saja, tetapi juga sebuah hasil karya yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu, seperti antropologi, keteknikan dan lain-lain.

“Saya sangat berterimakasih atas kedatangan Prof Reeve kesini. Semoga dapat mengispirasi kita semua”, pungkas Isda. (Humas Unimed)