PENGUMUMAN
Ida Liana Tanjung

Menelusuri Jejak Sejarah Lewat Uang

MEDAN – Uang, selain sebagai alat pembayaran ternyata mampu menyingkap tabir sejarah. Dari uang bisa diketahui siapa yang berkuasa. Dan uang juga merepresentasikan siapa penguasanya, seperti apa seleranya. Karena penguasalah yang memiliki hak untuk menentukan desain uang. Begitu pula tentang sejarah revolusi di Indonesia, dapat ditelisik dari uang yang beredar pada masa itu. Demikian disampaikan Ketua Pendidikan Sejarah Unimed Dr. Ida Liana Tanjung, M.Hum ketika membuka “Seminar Uang Perjuangan Sumatera Utara tahun 1947 – 1949” di Gedung Djuang 45, Medan (6/5).

Seminar sejarah ini diselenggarakan oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Unimed bekerjasama dengan Museum Uang Sumatera dan Dewan Harian Daerah 45 dengan tujuan memperbanyak riset seputar uang revolusi.

Seminar Uang

Ketua panitia, Muhammad Ricky mengungkapkan seminar ini juga merupakan bagian dari project mata kuliah Seminar Sejarah. Seminar ini juga untuk mengetahui peran uang pada zaman revolusi. “Ketika itu banyak uang yang beredar dan ditandatangani oleh kepala daerah. Dengan demikian, dari uang ini kita bisa ketahui siapa yang menjabat kepala daerah ketika itu. Harapan kami seminar ini menghasilkan rekayasa ide seperti karya ilmiah ataupun skripsi”, ujar Ricky.

Selain seminar, disini juga dapat disaksikan Mesin Pencetak Uang Revolusi di Tapanuli (1945-1949) dan pameran lebih 100 jenis uang masa revolusi di Sumatera Utara yang dikoleksi oleh Museum Uang Sumatera.

Ichwan Azhari

Menurut Dr. Phil. Ichwan Azhari, M.S, selaku dosen pembimbing mata kuliah Seminar Sejarah, percetakan uang zaman revolusi ini telah berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di Sumatera Utara 1945-1949. “Uang yang dicetak dengan mesin ini telah berhasil menembus blokade moneter Belanda yang memaksa bangsa Indonesia memakai uang Belanda dan uang NICA. Mesin yang dipakai untuk mencetak uang Tapanuli dan berlokasi di Sibolga ini, pernah dicari-cari Belanda untuk disita dan dihancurkan karena dianggap mengganggu penaklukkan ekonomi penjajahan. Berkali kali mesin ini disembunyikan dan pernah dibawa ke hutan menghindar di sita Belanda”, katanya.

“Dengan demikian mesin ini bukan hanya telah berfungsi sebagai alat pencetak uang tetapi sebagai senjata ekonomi untuk melawan Belanda. Mesin cetak uang revolusi yang merupakan memori penting bangsa ini tanpa menunggu pemerintah yang biasanya lamban memperhatikannya, telah diselamatkan atas usaha pribadi dari Bapak Rudi Barus untuk dipakai oleh Yayasan Museum Uang Sumatera”, pungkas Ichwan.

Seminar sejarah ini menghadirkan narasumber: 1. Kepala Museum Uang Sumatera, Syafaruddin Barus, 2. Kolektor Uang, Wahyuddin, 3. Saksi Sejarah, Irwan Fahmi. (Humas Unimed)