PENGUMUMAN

Pendidikan yang Berbudaya Lokal

Oleh : Mukhlis Hasbullah, M.Sn

Penulis adalah Dosen Jurusan Seni Musik FBS Unimed

Mengingat masa lalu untuk memetik sejumlah pelajaran kemudian menjadikannya bekal dalam upaya meningkatkan kualitas hidup merupakan tindakan bijak dari seseorang yang  menginginkan masa depan.

Proses perkembangan dan perubahan kejiwaan menjadi indikator sentral yang pada akhirnya digunakan sebagai tolak ukur kedewasaan. Dalam prosesnya, senantiasa lekat dengan berbagai problematika sosial sebagai bagian dari upaya adaptasi dan perbaikan diri. Pada fase tersebutlah, manusia sebagai makhluk sosial senantiasa mengalami proses belajar. Selanjutnya, seiring perkembangan zaman, proses itu berkembang, lebih serius dan sistematis karena melibatkan elemen-elemen yang lebih kompleks. Beberapa fenomena yang identik dengan perkembangan tersebut secara tidak langsung turut membentuk paradigma masyarakat yang menganggap bahwa proses belajar bertumpu pada pendidikan di lembaga resmi tertentu. Maka, tanggung jawab untuk melahirkan generasi-generasi intelektual juga menjadi milik lembaga pendidikan sepenuhnya.

Di era modernisasi dan arus perkembangan IPTEK yang semakin pesat ini, pendidikan turut mengalami pasang surut.Termasuk tak bisa dibebaskan sepenuhnya pendidikan dari ‘angin’ perdagangan bebas.Persoalan bagaimana pelaksanaan pembelajaran, motto, visi, misi dan metode yang diterapkan adalah cermin perkembangan sosial budaya kekinian. Tidak ada salahnya kita berefleksi dengan  sejumlah pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan, yang salah satunya benar-benar menjernihkan pendidikan dari segala hal yang bersifat negatif karena mengedepankan pemikiran bahwa pendidikan semata-mata merupakan usaha memajukan budi pekerti, pikiran dan fisik supaya tercipta kesempurnaan hidup. Selanjutnya, mendahulukan aspek-aspek berikut ini;

  1. Semua alat, upaya, dan strategi pendidikan harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya
  2. Keadaan yang sebenarnya itu terdapat dalam adat istiadat setiap masyarakat dan merupakan suatu kesatuan dengan sifat perikehidupan masyarakat serta usaha dan daya untuk mencapai hidup tertib damai.
  3. Adat istiadat tersebut dipengaruhi oleh zaman dan tempat, oleh karena itu senantiasa mengalami perubahan.
  4. Untuk mengetahui jati diri dari suatu bangsa perlu mempelajari zaman terdahulu.
  5. Pengaruh baru diperoleh karena interaksi dengan bangsa lain di masa yang lebih modern, maka dari itu harus dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Konsep pendidikan yang dijabarkan Ki Hajar Dewantara memang begitu lekat dengan substansi kebudayaan. Bak gayung bersambut dengan yang pernah dikatakan Koentjaraningrat tentang kebudayaan yang pada salah satu pengertiannya mengarah pada proses pembiasaan dengan belajar serta seluruh hasil budi dan karya. Dengan demikian maka pendidikan sebagai proses dan sebagai lembaga harus dilihat dari sudut pandang yang multidisipliner karena mengandung nilai-nilai kebudayaan yang kompleks. Hal tersebut sekaligus menjadi indikator yang menyebabkan urgensi pendidikan sama pentingnya dengan proses pembudayaan.

Ihwal pendidikan berbasis kebudayaan, tahun 1922, Ki Hajar Dewantara melalui pemikirannya  “pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya (cultureel-nationaal) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat Negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia” menjadi landasan yang memperkuat pemikiran bahwa pendidikan haruslah berasaskan kebudayaan.

Pada konteks ini, ada dua alternatif berpikir ihwal kebudayaan sebelum menjadikannya sebagai dasar dalam proses pendidikan di Indonesia. Pertama adalah menganggap kebudayaan sebagai sesuatu yang formal.Maka, memaknai kebudayaan pun dilakukan berdampingan dengan mematuhi sejumlah aturan yang sifatnya mengikat dari pihak pemerintahan kepada masyarakat.Alhasil, kebudayaan tentu saja menjadi hal yang kaku.Misalnya soal aturan untuk mengenakan pakaian tradisional pada hari tertentu.Jika dilihat dari waktu pencapaian untuk melihat kuantitas masyarakat yang menggunakan pakaian tradisional tersebut memang teknik ini sangat memuaskan.Tetapi apakah menjamin bahwa kebudayaan, nilai-nilai tradisi yang ada pada pakaian tersebut telah melekat pula pada jiwa masyarakat? Hal lain yang muncul dalam kondisi ini adalah pemanfaatan oleh pihak-pihak tertentu dengan menjadikan pakaian tradisi sebagai proyek pasar. Tentu saja yang demikian itu dapat menjadi petaka untuk kebudayaan Indonesia.

Kedua, memaknai kebudayaan sebagai bagian dari jati diri setiap individu dalam masyarakat dan kehidupan sehari-hari.Pemahaman dalam konteks ini mengedepankan anggapan bahwa kebudayaan bukan sekedar tampak dari ornamen/aksesoris semata.Terlebih merupakan runut peristiwa kehidupan yang kompleks dan mengandung nilai-nilai luhur yang adiluhung.Maka, mencintai kebudayaan tidak dilakukan dengan mengenakan pakaian tradisi pada hari tertentu saja. Melainkan turut melakukan penggalian nilai dan proses sosial yang ada di balik pakaian itu. Dengan demikian, memaknai kebudayaan menjadi suatu kegiatan edukatif yang komprehensif bagi segenap lapisan masyarakat dan secara tidak langsung juga telah membantu menjembatani pengenalan antaretnis.

Kedua konsep berpikir tersebut merupakan pilihan sebelum melakukan sejumlah kebijakan pendidikan terkait kebudayaan.Sebagai alarm, alangkah baiknya juga jika makna dasar kebudayaan yang berkaitan erat dengan kata-kata “adab” atau “peradaban” diamini bersama.Dalam bahasa Arab, Parsi dan bahasa melayu, budaya pun berarti didikan, pemeliharaan, budi bahasa serta sopan santun terutama dalam kaitannya dengan pengetahuan mengenai bahasa dan sastera.Oleh karena itu, seorang yang beradab adalah seorang cerdik pandai, orang intelektual, yang berpendidikan baik terutama dalam bidang bahasa, seni suara serta seorang yang bersopan santun. Senada dengan yang dikatakan oleh  Koh Young Hoon bahwa kebudayaan (culture) dapat dikatakan mengandung unsur-unsur kebatinan atau kerohanian, yaitu unsur-unsur dalam yang menggerakkan pencapaian derajat dan nilai yang tinggi dalam diri manusia dan segala sesuatu yang menjadikan manusia lebih sempurna. Maka kebudayaan menjadi ‘motor’ dalam perjalanan perubahan kualitas kehidupan manusia. Tidak hanya dalam lingkungan sosial masyarakat wilayah, tetapi di lingkungan-lingkungan pendidikan.Salah satunya adalah kampus.Selain sebagai lembaga pendidikan, kampus merupakan wilayah sosial yang memiliki urgensi tinggi dalam melakukan pendidikan kebudayaan. Tidak sebatas pelaksanaan kurikulum dengan penekanan pada beberapa item yang  bersubstansi kebudayaan. Semestinya pendidikan berbasis kebudayaan ini dilakukan melalui pembentukan iklim di wilayah kampus yang benar-benar kental dengan kebudayaan.

Pendidikan berbasis kebudayaan menjadi momentum paling tepat untuk mengajarkan dan menanamkan kembali budi pekerti serta karakter tradisional yang adiluhung sebagai bangsa Indonesia.Misalnya adalah kebiasaan bergotong royong.Hal tersebut menjadi sangat penting karena di tengah perkembangan ilmu dan teknologi, perubahan pola pikir dan sikap bermasyarakat telah menghanyutkan sebagian besar pemuda Indonesia dalam arus hedonisme. Pola hidup yang bebas dan cenderung individualistis dalam balutan gaya modern menggejala, hingga pada akhirnya menggerus nilai-nilai kearifan lokal yang ada. Pada kondisi inilah pendidikan berbasis kebudayaan berfungsi merangkul mahasiswa yang merupakan bagian dari kaum muda untuk melakukan gerakan perlawanan. Dalam konteks ini, tentu saja perlawanan  yang dimaksud tidak bersifat radikal, namun elegan dan tetap kental dengan kebudayaan lokal.

Pembentukan iklim kampus yang kental dengan nuansa kebudayaan sebenarnya bukan pekerjaan yang rumit. Dengan kerja sama antara para pengajar, mahasiswa dan segenap civitas akademika maka semua bisa diwujudkan.

Motto The Character Building University yang diusung Universitas Negeri Medan sudah merupakan landasan cemerlang untuk merealisasikan visi dan misi dari pendidikan berbasis kebudayaan. Selain itu, kampus hijau ini merupakan tempat belajar putra-putri terbaik dari berbagai wilayah di Sumatera Utara bertemu, bersosialisasi dan belajar dengan keberagaman.Bukankah itu sudah merupakan energi yang potensial?

Kita bisa bergerak, melakukan perubahan bersama-sama. Misalnya membekali mahasiswa dengan keterampilan dan konsep berpikir recycle. Salah satunya dengan mendesain kantin tradisional.Berbeda dari yang saat ini ada, kantin tradisional adalah kantin yang didesain dengan desain tradisional etnis yang ada di Sumatera Utara.Sejarah telah menunjukkan betapa arsitektur rumah adat etnis yang ada di Sumatera Utara sangat berkualitas dan indah.Mengapa tidak dimanfaatkan? Tentu saja dalam pelaksanaan kegiatan ini, akan lebih maksimal jika  merangkul dan memberdayakan potensi mahasiswa seni rupa yang ada di Universitas Negeri Medan. Di samping dapat menjadi aktivitas yang bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan mahasiswa tentang etnis yang ada di Sumatera Utara melalui arsitektur lokal, kegiatan ini juga dapat mengembangkan kompetensi mahasiswa dalam berkarya.

Agar tetap menjadi tempat yang  menarik, fasilitas yang ada di kantin tradisional dapat dilengkapi dengan wifi dan buku. Untuk makanan yang dijual di kantin, tentu saja adalah makanan-makanan tradisional yang saat ini sudah sulit ditemukan dan dikonsumsi publik.Misalnya jamu tradisional, ubi rebus, dan lainnya.Mengapa kantin?Hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa sejumlah tempat yang paling digemari mahasiswa adalah kantin.Selain bisa sembari beristirahat dan berkumpul dengan rekan sejawat, kantin dapat dikatakan sebagai zona ramai yang potensial untuk menjadi kawasan mendidik.Desain kantin yang sangat kental dengan kebudayaan tradisional Sumatera Utara secara tidak langsung telah mengingatkan kembali para mahasiswa pada kebudayaannya.Pada kearifan lokal yang ada di etnis masing-masing. Tidak menutup kemungkinan, dengan kenyamanan tersebut, budaya akademik juga  dapat terbentuk. Selanjutnya, pembangunan dengan gaya arsitektur lokal Sumut ini dapat dilakukan di bagian gedung belajar lainnya.

Selain mendesain kantin tradisional dan mendesain sejumlah tempat di kawasan kampus dengan gaya tradisional arsitektur Sumater Utara, hal lain yang dapat dilakukan  adalah mengadakan kegiatan-kegiatan mahasiswa yang mengangkat kembali aktivitas tradisional. Misalnya adalah lomba makan kerang.Jika selama ini aktivitas tersebut dianggap sebagai aktivitas kuno yang hanya dilakukan oleh masyarakat melayu, di zaman postmodern ini semestinya harus dibongkar. Di Eropa, kebiasaan makan kerang merupakan aktivitas yang menyenangkan dan dilestarikan oleh penduduknya karena sudah dianggap sebagai bagian dari kegiatan tahunan yang mendarah daging. Kegiatan tersebut justru menjadi kebanggaan. Mengapa kita tidak bisa?

Pendidikan berbasis kebudayaan di lingkungan kampus memang membutuhkan medium yang kreatif dan inovatif untuk mengenalkan, mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai luhur budaya Indonesia kepada para mahasiswa yang notabene merupakan pemuda-pemudi dari kaum modern.Metode pengajaran yang satu arah tentu saja sudah tidak tepat jika diterapkan untuk pencapaian ini. Mahasiswa sebagai agen perubahan masa menjadi pihak yang harus terlibat penuh.