PENGUMUMAN
Seminar PUSSIS

Seminar PUSSIS Ungkap Peradaban Lewat Kapur Barus & Kemenyan

Medan (Unimed) – Kapur Barus (kamper) dan kemenyan asal Sumatera ternyata memiliki daya pikat tinggi, sangat dicari dan harganya hampir setara dengan emas. Kondisi itu pula yang mengundang berbagai bangsa asing melakukan perdagangan dan pelayaran ke daerah penghasil kapur barus dan kemenyan. Seperti diketahui perdagangan merupakan salah satu pemicu peradaban pada masa itu.

Keberadaan kapur barus di Pantai Barat Sumaterayang kemungkinan besar menjadi latar belakang penamaan salah satu bandar dagang penting, yaitu Barus. Tempat ini bahkan telah diberitakan Claudius Ptolemaus pada abad ke-2 M dengan sebutan Barousai.

Dalam kitab suci Al-Quran, Surah Al Insan ayat ke-5 menyebutkan kafura yang dalam leksikon Arab disebut berasal dari Persia. Sedangkan dalam kamus Persia kafura disebut berasal dari bahasa Melayu yaitu kapur, pohon kapur, kapur dari Barus. Jika ini benar maka kafura merupakan kosakata Melayu yang masuk dalam Al-Quran.

Dalam Al Kitab, Matius 2: 1-12, menyebut saat Yesus lahir, ada tiga orang Majus datang. Mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Literatur menyebut orang itu orang Majus itu orang Persia. Mungkinkah kemenyan yang dibawa itu berasal dari Sumatera?

Informasi tersebut yang mengundang niat para peneliti untuk menelusuri sejarah dan jejak kapur barus dan kemenyan Sumatera. Seperti dalam seminar “Jejak Kapur Barus dan Kemenyan Dalam Peradaban Dunia” yang digelar oleh Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (PUSSIS) UNIMED di VIP Room Serbaguna Unimed, Rabu (7/12), tiga orang peneliti menyampaikan hasil temuannya. Mereka ialah Dr. Aswandi dari Badan Litbang Kemen LHK, Ery Soedewo, M.Hum dari Balai Arkeologi Medan, dan Dr. Phil. Ichwan Azhari dari PUSSIS UNIMED.

Seminar PUSSIS2

Dari eskavasi yang dilakukan, Ery Soewondo menemukan jejak damar  di situs-situs arkeologis dan membedakannya berdasarkan konteks temuannya yakni yang bersifat profan dan yang bersifat sakral. Damar-damar yang temuannya bersifat profan antara lain ditemukan di situs Pulau Kampai dan situs Kota Cina. Sementara yang bersifat sakral terdapat di situs Simangambat, Bukit Koto Rao dan temuan dari Candi Plaosan Lor sebagai pembanding.”Damar merupakan salah satu hasil alam pulau Sumatera yang memiliki arti penting bagi perkembangan pulau ini”, katanya.

Damar-damar ini pun mengalir ke Tiongkok melalui jalur niaga. Bahkan dampak dari tingginya permintaan beragam produk eksotis itu mengakibatkan mengalirnya koin-koin Tiongkok keluar negeri. Seperti ketika tahun 1078 sejumlah komoditas khas seperti kamper dan kemenyan memasuki pelabuhan Guangzhou, pemerintah dinasti Sung kala itu membalasnya dengan 64.000 min koin serta 10.500 tael perak.

Aswandi menyebutkan damar merupakan sejenis getah yang dihasilkan berbagai tumbuh-tumbuhan seperti pohon damar, tusam, meranti, kapur atau kamper, dan kemenyan. Dirinya menyesalkan tanaman seperti barus dan kemenyan mulai punah. “Masyarakat tebang pohon kapur hanya 2 juta, sesudah itu pohonnya mati. Sedangkan kalau minyaknya disadap bisa 7 jutaan. Dan hasilnya terus menerus. Ini yang harus kita sampaikan ke masyarakat”, ungkapnya.

Ichwan Azhari menilik kapur barus dan kemenyan dari sisi sejarah. Meskipun menemukan penyebutan kapur barus dan kemenyan dalam banyak literatur tua, namun dirinya belum bisa memastikan bahwa kapur barus dan kemenyan yang disebutkan dalam Al-Quran dan Al Kitab berasal dari Sumatera. Ini dikarenakan belum ada bukti otentik yang menyatakan bahwa kapur barus berasal dari Barus dan kemenyan dari daerah Batak. “Belum ada bukti tertulis maupun prasasti yang mengatakan kapur barus itu berasal dari Barus, Sumatera”, ungkapnya.

Di kalangan para ahli masih terjadi perbedan pendapat yang memperkirakan asal kapur barus berasal dari Barus, atau di Teluk Pancu, atau di Semenanjung Malaya.

Oleh sebab itu Ichwan menyarankan penelitian lebih lanjut dan mengajak peneliti dari kajian ilmu lain seperti arkeologi, antropologi, biokimia, dan lain-lain. “Jika saja Firaun yang katanya diawetkan pakai kapur barus itu, diteliti kapur barusnya. Itu memerlukan ahli biokimia. Saya kira apabila ahli mampu menelaah secara biokimia asal dari kapur barus yang dipakai untuk mummi itu, maka akan kita ketahui asal dari kapur barus ini”, pungkasnya. (Humas Unimed).