PENGUMUMAN
FIS 02

Unimed Tuan Rumah Pertemuan Forum Pimpinan FIS/FPIPS/FISH Se-Indonesia

Medan – Universitas Negeri Medan menjadi tuan rumah dalam menyelenggarakan Pertemuan Forum Pimpinan FIS/FPIPS/FISH se-Indonesia pada 19-22 Oktober 2017. Dilaksanakan di dua tempat di Hotel Arya Duta, Medan dan Hotel Prapat Cottage, Parapat.

Pada pertemuan forum tersebut, turut hadir Pimpinan FIS/FPIPS/FISH 12 LPTK Negeri Se-Indonesia,  UNIMED Medan, UNJ Jakarta, UNY Yogyakarta, UNNES Semarang, UNESA Surabaya, UNG Gorontalo, UM Malang, UNM Makassar, UPI Bandung, UNDIKSHA Bali, UNP Padang dan UNIMA Manado. Sebanyak 161 orang perwakilan LPTK se-Indonesia dan Badan Pengurus HISPISI periode 2016-2020.

FIS 01

Rektor Unimed Prof. Syawal Gultom dalam sambutannya sebagai tuan rumah mengatakan, selamat datang di Medan Bapak/Ibu Dekan FIS/FPIPS/FISH kami doakan semoga bapak/ibu merasa nyaman dan bahagia selama berada di Medan. Kami merasa bangga dan bahagia telah dipercaya menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Forum ini. Kita bersama berharap semoga pertemuan di Medan ini akan menghasilkan kesepakatan terbaik untuk pengembangan dan peningkatan sistem akademik, manajemen dan kerjasama di LPTK Negeri yang diamanahkan oleh civitas kepada kita, khususnya di FIS/FPIPS/FISH masing-masing.

Lanjut Prof. Syawal sebagai tuan rumah mengangkat tema yg sangat signifikan yakni “Pendidikan ilmu2 sosial berwawasan kebangsaan”.

Persoalan kebangsaan ini perlu kita rekatkan kembali. Melalui pasal 31 UUD disebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan. Harus ada “usaha”, tidak bisa pemerintah hanya menyelenggarakn satu sistem pendidikan nasional yg meningkatkan ketaqwaan dan keimanan akan akhlak yang mulia untuk mencerdaskan bangsa dan wawasan kebangsaan.

Jadi untuk bisa mncerdaskan bangsa ini, syaratnya adalah iman, taqwa, dan akhlak mulia, itu yg utama digariskan dlm UUD. Pada UU SISDIKNAS dilanjutkan bhw tujuan pndidikan itu diselenggarakan di Indonesia adalah untuk mengeksplorasi potensi. Bagaimana menemukan potensi anak bangsa indonesia utk diolah mnjdi warga negara yg brtanggung jwb dan demokratis. Hal ini saling berkaitan, bagaimana mungkin manusia yg bertanggung jawab jika tidak beriman dan bertaqwa.

Lagi-lagi pendidikan itu tujuan utamanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang telah dilekatkan di UUD. Pada negara-negara maju, ditekankan bahwa pndidikan dilakukan untuk mncapai successful learn (belajar yang sukses), menjadi individu yang percaya diri, mnjadi warga negara yg bertanggung jawab. Ketika semuanya dapat dicapai maka pribadi tersebut akan menjadi effective contributor (kontributor yang efektif) bagi bangsanya, bagi peradaban bangsanya, bagi peradaban dunia.

John Dewey mengatakan bahwa “Education is not preparation for life; education is life itself.”

Untuk Indonesia sendiri, bagaimana tercipta harmonisasi secara vertikal dan horizontal dalam menyelenggarakan pendidikan terkait dengan wawasan kebangsaan. Adalah prtanyaan yang besar bagi suatu bangsa, ketika jenjang pndidikannya smakin tinggi tetapi cara2 berbangsanya tidak berubah atau smkin baik. Nelson Mandela pernah mengatakan, “education is the most powerful weapon which you can use to change the world “. Tidak ada yg lebih powerful utk merubah dunia ini selain pendidikan. Di sebagian besar negara di dunia ini, semakin trdidik bangsanya maka semakin baik cara berbangsa dan bernegaranya dan smakin sejahtera. Kecuali di Indonesia, tidak terlihat relasinya. Pendidikan ini tidak jelas kmn arahnya.

Sejatinya pendidikan ini adalah milik anak-anak kita sejak dini. Dan sesungguhnya anak anak SD itu tidak kenal mata pelajaran, yang dia kenal itu diriku sendri, keluargaku, lingkunganku, teman-teman sekolahnya. Sehingga penting kiranya pengenalan diri dan lingkungan serta nilai-nilai baik yang harus ditanamkan dalam pribadi yg lbh dikedepankan daripada mengenalkan mereka kepada mata pelajaran. Juga delivery system yang digunakan oleh guru hrs dirubah jangan tetap sama seperti dulu, menjelaskan kemudian ketika ujian hanya mengisi multiple choice.

Seminar ini penting dilakukan untuk mengkritisi sistem pendidikan yang berlaku sekarang. Utamanya untuk mengkritisi dua hal utama yaitu Metodologi dan juga guru sebagai praktisi pendidikan. Kita harus berubah dari angka-angka menjdi tafsir-tafsir kualitatif. Tidak ada profesi yang lebih sulit daripada guru di muka bumi ini. Kalau dokter hanya mengoperasi tubuh, namun guru mengoperasi akhlak dan otak yang menentukan masa depan/ Sehingga memanglah bukan profesi yg gampang sebagai guru.

Penting bagi kita menerjemahkan arti pancasila yang bisa dipahami dengan mudah oleh anak SD. Pancasila itu harus bisa terjemahkan menjadi wawasan kebangsaan, the way of life, the way of thinking, the way of working, the tools of working.

Bagamana kita mencerdaskan bangsa, maka kembali lagi untuk mengingat pasal 31 UUD yang intinya Iman taqwa dan akhlak.

Kalau kata Bung Karno, bekerjalah dengan seksama dan lakukan dlm tempo yang sesingkat-singkatnya, jangan berlama-lama. Kalau FIS ingin mengubah jangan berlama-lama, rubah sekarang juga. Rubah sedini mungkin dari tingkat SD.

Kalau mau merubah wajah Indonesia 20 tahun lagi, ayo kita ke sekolah, duduk di ruang kelas, amati apa yang terjadi didalam kelas. Kalau yang disampaikan hanya sebatas pengetahuan saja, makan tidak akan mengembangkan sikap wawasan anak-anak berkebangsaan, dan jangan berharap Indonesia akan berubah tahun 2045.

Mari kita merubahnya mulai dari hari ini. Kita rubah dengan cara yang seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” tegasnya.

Forum yang dilaksanakan selama 4 hari tersebut, dilaksanakan Rapat Kerja Kepengurusan HISPISI periode 2016-2020, Rapat Kerja fungsionaris membahas penguatan Implementasi Kurikulum KKNI berwawasan kebangsaan, Rapat Kerja kepala laboraturium membahas fungsi laboraturium sebagai wahana sistemik profil lulusan berkarakter wawasan kebangsaan, dan Rapat Kerja pengelola jurnal di lingkungan FIS/FPIPS/FISH LPTK Indonesia.

Kemudian dilaksanakan juga Seminar Nasional dalam bentuk Diskusi Panel dengan menghadirkan Nara Sumber Prof. Dr. Syawal Gultom M.Pd (Rektor Universitas Negeri Medan), Mayjen TNI Cucu Somantri, S.Sos (Pangdam I Bukit Barisan), Prof. Wasino (FIS UNNES), dan Prof. Dr. Warsono, MS (Ketua HISPISI 2016-2020).

FIS 03

Dan pada penutupan acara dilaksanakan di Hotel Parapat Cottage, Parapat. Kemudian dilanjutkan dengan wisata sejarah dan budaya ke Danau Toba dan Pulau Samosir, Sumatera Utara. (Humas Unimed).